Apa Itu Sindrom Bebek?

Dalam suatu ruangan makan yang luas dan elegan, sejumlah orangtua bertemu. Mereka tidak sembarangan. Mereka merupakan penduduk dari Sky Castle. Sebuah kompleks elit di Korea Selatan.

Mereka tak cuma kaya tetapi juga memiliki pekerjaan serta status tinggi yang meliputi berbagai bidang seperti pengacara sampai dokter spesialis. Hanya kekayaan saja belum cukup untuk menjadikan mereka penduduk di Sky Castle.

Han Seo Jin adalah isteri dari seorang dokter bedah ortopedi yang berasal dari keluarga dokter ternama dan menjadi tuan rumah acara pesta mewah ini. Dia dengan hangat menyapa setiap tamu yang hadir. Para temannya merupakan tetua warga di Sky Castle.

Namun, Han Seo Jin tidak menyelenggarakan pesta mewah ini demi kepentingannya sendiri. Pesta tersebut pun tak dilakukan untuk anaknya ataupun keluarga mereka.

Park Young Jae adalah putra sahabat Han Seo Jin yang baru-baru ini dinyatakan lulus dan diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Seoul — perguruan tinggi terkemuka di Korea Selatan.

Inilah alasannya Han Seo Jin menyelenggarakan pesta tersebut. Bukan bertujuan untuk perayaan, tetapi lebih kepada mencari informasi.

Han Seo-jin penasaran dengan rahasia tersebut. Bagaimana mungkin seorang anak dapat diterima di perguruan tinggi idaman setiap orangtua? Dimanakah les tambahan mereka? Siapakan guru-guru mereka? Apa teknik belajar yang digunakan? Seluruh pertanyaan ini menghiasi pikiran Han Seo-jin, namun ia hanya menunjukkan ekspresi tersenyum sambil menyampaikan selamat lewat kata-katanya.

Dalam ruangan tersebut, bunyi cangkir anggur bergabung bersama tawa para milyarder seperti sedang menciptakan harmoni musik.

Namun dibalik semuanya tersebut, tiap orangtua tengah menimbang, meraba, serta bertafakur sungguh-sungguh. Seolah-olah mereka sedang menyusun taktik tersembunyi yang tersamar dalam acara bergengsi.

Segalanya tampak damai, tertib, dan bahagia. Namun dalam kesedaran mereka, ribut kacang berkecamuk.

Minum-minum di kampus.

Tahun 1993, dua ahli psikologi dari Universitas Princeton, Deborah Prentice dan Dale Miller, melakukan penelitian yang menarik tentang perilaku konsumsi alkohol di lingkungan kampus.

Berdasarkan temuan dari observasi tersebut, ditemukan bahwa sebagian besar mahasiswa merasa tidak nyaman dengan lingkungan pesta dan konsumsi alkohol yang berlebihan. Meski demikian, mereka masih mengikutinya karena percaya bahwa kebanyakan orang lain menikmati hal ini.

Mereka pun mengikutinya saja. Berpura-pura senang. Menyeringai ketika cawan disebarkan. Sebab mereka tak mau tampak mencolok. Meski demikian, banyak di antara mereka merasa kurang enak juga.

Phenomenon ini dikenal sebagai kebodohan pluralistik. Ketika semua pihak secara diam-diam merasa tidak setuju, namun tetap saja ikut-ikutan hanya karena berpikir bahwa mereka adalah satu-satunya yang merasakan ketidknyamanan tersebut.

Apa itu duck syndrome?

Maka apakah yang dimaksud dengan Sindrom Itik tersebut?

Duck syndrome adalah keadaan dimana individu kelihatan damai dan tampil sempurna dari luar, tetapi sesungguhnya tengah bertarung melawan diri sendiri secara internal. Sama seperti angsa yang nampak merapat dengan tenang di atas permukaan air, namun dibagian bawah tubuhnya bergerak aktif tanpa hentikan untuk mendorong majunya dirinya.

Demikianlah kejadian di Sky Castle.

Setiap orang tua nampak anggun dan yakin dengan dirinya sendiri. Mereka bercengkrama sambil saling memberikan pujian. Namun di balik itu semua, mereka merasakan kecemasan, rasa iri hati, serta penat akibat persaingan ketat dalam sistem yang mendorong pencapaian sempurna. Mereka enggan tampil sebagai sosok yang rapuh atau tertinggal. Karena alasan tersebut, mereka tetap menyembunyikan realitas – meski pada dasarnya sudah seperti mau tengelam namun masih mencoba untuk bertahan.

Ini serupa dengan pengalaman mahasiswa di Princeton. Mereka mengikuti alur untuk mempertahankan imej mereka.

Mereka pura-pura menikmati minuman agar tak terlihat kesepian. Namun, justeru karena setiap orang berakting demikian, ilusi tersebut makin mendalam.

Sepertinya semua orang dalam keadaan baik, tetapi pada dasarnya tak ada yang betul-betul baik. Dalam zaman saat ini, hal tersebut semakin dipersulit oleh penggunaan media sosial.

Penelitian tentang sosial media

Chou dan Edge melaksanakan suatu studi dengan judul “Mereka Lebih Bahagia dan Memiliki Kehidupan yang Lebih Baik Daripada Saya”: Dampak Penggunaan Facebook terhadap Pandangan tentang Hidup Orang Lain”

Pada studi yang mencakup 425 siswa universitas tersebut, terungkap bahwa semakin lama waktu seseorang menghabiskan di Facebook dan semakin sering penggunaan per harinya, maka akan semakin meningkat pula kepercayaan mereka bahwa orang lain merasa lebih senang dan memiliki hidup yang lebih baik dibandingkan diri mereka sendiri.

Ini pasti berhubungan dekat dengan Sindrom Duck. Mengapa demikian?

Di media sosial, kita tak memandang orang sebagai keseluruhan. Yang kita lihat hanyalah bagian terbaik mereka — pencapaian, perjalanan wisata, momen berkesan, bentuk badan sempurna, dan hunian megah.

Kita tak menyaksikan air mata usai perdebatan. Kita tak menangkap rasa cemas pada dini hari menjelang wawancara pekerjaan. Kita tak mengenali kondisi kelelahan total tersembunyi di balik unggahan yang tampak sempurna.

Apa yang kita lihat hanya luarnya saja. Sama seperti bebek yang terlihat tenang di permukaan air, tetapi sebenarnya berenang dengan cepat di bawah sana untuk mencapai tujuannya.

Studi ini juga memperlihatkan bahwa semakin sering seseorang mengikuti akun orang yang tak dikenali secara personal, semakin tinggi kemungkinan mereka merasakan bahwa kehidupan orang lain jauh lebih menyenangkan dan sempurna.

Kenapa?

Sebab kita tak paham situasi sebenarnya dari unggahan mereka. Yang terlihat hanyalah hal-hal yang orang lain beri kami akses untuk dilihat.

Lalu ketika kita menimbang-nimbing kenyataan hidup kita yang dipenuhi tantangan dengan kehidupan orang lain yang kelihatan lancar dan sempurna, kita jadi merasa kurang beruntung. Kita bertanya dalam hati, “Mengapa mereka masih bisa tenang dan senang-senang saja? Padahal aku selalu lelah.”

Sebenarnya, mereka juga tengah berperang. Namun, mereka memilih untuk tidak mengungkapkannya.

Inilah yang disebut sebagai sindrom angsa dalam konteks digital. Media sosial telah menjadi sumber hiburan primer.

Kami semua berusaha dengan keras, namun mencoba menyembunyikan hal itu karena khawatir tampak sebagai kegagalan. Kami tinggal di sebuah masyarakat yang meminta kita untuk sukses tetapi juga agar kelihatan mudah mendapatkannya tanpa banyak usaha.

Sama halnya dengan para orangtua di Sky Castle yang tersenyum lebar saat memberikan ucapan selamat kepada Ibu Park Young, namun perasaan dan pemikirannya seolah kakinya berguncang gelisah di bawah air. Mereka sibuk merencanakan strategi supaya anak-anak mereka dapat mengejar ketertinggalan, bahkan mungkin melebihi prestasi Park Young Jae, putra sahabat mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *